Hukum dzikir fida’ sughro/kubro

bid'ah gde

Tanya:
(Yudi Abu Hani Bandung) TIS-6
Bismillah.. Afwan ana ingin bertanya mengenai hukum dzikir fida’ sughro/kubro (‘ataqah sughro/kubro) yang telah meluas di sebagian masyarakat sini, yang ditujukan untuk seseorang yang telah wafat (yang konon katanya sebagai penebusan kecil kepada Allah) adapun tatacara yang sedikit ana ketahui adalah dengan membaca kalimat tahlil sebanyak 70 ribu kali (fida’ sughro) dan surat Al Ikhlas sebanyak 100 ribu kali (fida’ kubro).. Mohon penjelasannya.. Jazaakumullahu khairon.

Jawab:

(Oleh Utadz Askari hafizhahulloh)

Wa anta jazakallahu khoiron, amalan bid’ah, amalan bid’ah dan subhanallah, menyulitkan. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ tujuh puluh ribu kali kapan selesainya? Membaca surat Al Iklhas seratus ribu kali kapan selesainya? Subhanallah, sangat menyulitkan. Dan demikianlah bid’ah, bid’ah itu ghuluw. Seseorang yang ingin berlebih-lebihan dalam melakukan amalan, dalam beragama, dalam mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala. Kata Asy Syatibi rahimahullahu ta’ala dalam Al I’tisham, ketika beliau mendefinisikan bid’ah:

عِبَارَةٌ عَنْ طَرِيْقَةٍ فِي الدِّيْنِ مُخْتَرَعَةٍ تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا المُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُدِ للهِ سُبْحَانَهُ

Suatu istilah untuk suatu jalan dalam agama yang dibuat-buat (tanpa ada dalil, pen) yang menyerupai syari’at (ajaran Islam), yang dimaksudkan ketika menempuhnya adalah untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Suatu metode dalam mengamalkan agama ini yang  مُخْتَرَعَةٍ (baru). Jadi membuat inovasi baru dalam beragama, menjalankan ibadah. Kalau seorang membuat inovasi dalam teknologi, silahkan. Membuat mobil invoasi baru, membuat motor inovasi baru, silahkan.

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

“Kalian lebih mengerti tentang urusan dunia kalian” (Shahih Muslim 2363-141)

Tapi kalau dalam urusan ibadah, yang Allah subhanahu wata’ala telah menyempurnakan agama ini dengan turunnya firmannya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS Al-Mâ´idah: 3)

Ini membuat inovasi baru dalam menjalankan ibadah.

يُقْصَدُ بِالسُّلُوْكِ عَلَيْهَا

Yang tujuannya ketika seorang mengamalkannya المُبَالَغَةُ (berlebihan) dalam menjalankan ibadah kepada Allah subhanahu wata’ala. Didalam islam, tidak dituntut seseorang memperbanyak sesuatu diluar kadar. Semakin banyak ibadah, maka semakin afdhal, tidak, tidak demikian yang dianjurkan di dalam islam. Namun didalam menjalankan ibadah, yang harus diperhatikan adalah kualitasnya, jangan kuantitasnya. Kualitas ibadah, apakah sejalan dengan sunnah rasul shallallahu ‘alaihi wasallam atau tidak.

 

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ تعالى عَنْهُ قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا. فَقَالُوا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟، قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَصُومُ الدُّهْرَ وَلا أُفْطِرُ، وَقَالَ آخَرُ: أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا. فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟،أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لأ خْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ. فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Ta’ala ‘anhu berkata: Datang 3-orang menuju rumah-rumah istri Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, mereka bertanya-tanya tentang ibadahnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. Kemudian ketika dikabarkan kepada mereka (tentang sifat-sifat ibadah beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam), mereka merasa seakan-akan ibadah mereka masih kurang, maka mereka berkata: “dimana posisi kami terhadap Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam? Sungguh beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang!”, berkata salah seorang dari mereka: “ketahuilah bahwa aku akan melakukan shalat malam selamanya”, dan berkata yang lainnya: “aku akan terus shaum dan tidak akan berbuka”, dan berkata yang terakhir: “aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya”. Kemudian datang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda: “kaliankah yang mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, ketahuilah sungguh aku orang yang paling takut dan paling bertaqwa diantara kalian kepada Allah Ta’ala, akan tetapi aku shaum dan berbuka, dan aku shalat juga tidur, dan aku menikahi wanita. Maka barang siapa membenci sunnah-sunnahku, maka dia bukanlah termasuk golonganku”. (Dikeluarkan oleh 2-syaikh, yakni Imam Bukhary dan Imam Muslim).

كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا mereka menganggap sungguh sedikit ibadah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhirnya yang satu mengatakan “kalau begitu saya akan shalat terus tiap malam, tidak ada istirahat, tidak tidur di malam hari”. Yang satunya mengatakan “saya setiap hari berpuasa”. Yang satunya mengatakan “saya tidak mau nikah”. Ibadah ini, kelihatannya masya Allah, tiap hari puasa, puasa kan ibadah? Tiap hari, koq dilarang? Kalau dilihat dari sisi kuantitasnya (banyaknya), ini lebih afdhal, ternyata rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang berpuasa sepanjang masa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang berpuasa wishal, menyambung satu puasa dengan puasa yang berikutnya tanpa makan di malam hari, tanpa berbuka, tanpa makan sahur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di malam hari dan juga mengambil sebagian waktu untuk beristirahat. Kadang berpuasa, kadang tidak berpuasa, dan beliau menikahi para wanita, dan beliau mengatakan:

أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لأ خْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ

Demi Allah, aku ini yang paling bertakwa kepada Allah dibanding kalian, dan paling takut kepada Allah dibanding kalian.

Lalu beliau mengatakan:

 

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan dari ummatku.

Padahal dia atau mereka ingin melakukan ibadah, hanya berlebihan. Sehingga keluar dari jalur tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kata para ulama salaf (‘Abdullah bin Mas’ud):

اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة

“Sederhana dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah.” (HR. ad-Darimi (223), al-Lalika’i (1/55, 88) dan yang selainnya. Atsar ini shohih.)

Apa manfa’atnya membaca لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ tujuh puluh ribu kali, membaca surat Al Iklhas seratus ribu kali, sementara nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan:

 

عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم  مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ibunda kaum mukminin, Ummu Abdillah Aisyah –semoga Allah meridhainya- beliau berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu hal yang baru dalam perkara kami ini yang tidak ada (perintahnya dari kami) maka tertolak” (H.R alBukhari dan Muslim). Dalam riwayat Muslim: Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.”

Tidak bermanfaat, menghabiskan waktu 70 ribu kali, subhanallah. Ucapan لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ itu keutamaan, namun ada aturannya, ada tuntunannya, dan tidak pernah sama sekali rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kepada ummatnya, acara kematian apabila ada seorang meninggal, lalu kemudian dipilihkan mau fida’ sughro, mau fida’ kubro? Pilih, biasanya ada timnya yang seperti ini, dan dibelakangnya ada tujuannya, al maal, fulus. Al fulus, itu intinya. Kalau ada kematian, mau tidak dibebaskan dari neraka, fida’ sughro sekian. Itu sudah ada tim, biasanya. Fida kubro, ini jelas, jaminannya lebih, garansinya lebih bertahan lama. Allahul musta’an darimana ini? Ajaran siapa ini? Ajaran habaib apa ajaran rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang kita diperintahkan untuk mengamalkan.

Alhamdulillah kaum muslimin telah cukup dengan bimbingan, tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tidak perlu mencari tuntunan yang lain. Apa yang diajarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, itulah kebaikan.

لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

Kalau seandainya itu kebaikan, para sahabat telah mendahului kita untuk mengamalkannya.

Download Audio disini

Sumber : TIS (Thalab Ilmu Syar’i)


(2102) views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Kategori Artikel

Newsletter

536688