Kekejaman Syiah Hutsi di Yaman

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

wilayah-hutsi

Hutsiyah merupakan kelompok Syiah pecahan dari Syiah Zaidiyah yang berkembang di Yaman. Pemimpinnya adalah Badruddin al-Hutsi, lahir pada tanggal 17 Jumadal Ula 1345 H di kota Dhahiyan dan dibesarkan di Sha’dah, Yaman Utara. Pada asalnya dia berpemikiran Zaidiyah, yang kemudian lebih condong kepada pemikiran Syiah Rafidhah yang berpusat di Iran. Dia pindah ke Iran setelah berselisih paham dengan sebagian ulama yang bermazhab Zaidiyah.

Pada tahun 1986 M, terbentuk lembaga “Persatuan Para Pemuda” di Sha’dah. Lembaga ini bertujuan untuk mengajarkan mazhab Zaidi bagi para penganutnya. Badruddin al-Hutsi yang termasuk ulama besar mazhab Zaidi ketika itu menjadi pengajar di lembaga tersebut.

Pada tahun 1990 M, terjadi persatuan antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Dibuka kesempatan untuk membuat partai. Lembaga ini berubah haluan menjadi Hizbul Haq (Partai Kebenaran) yang menjadi perwakilan partai Zaidiyah di Yaman. Husain Badruddin al-Hutsi—anak Badruddin—merupakan tokoh politik yang sangat populer ketika itu. Dia masuk ke dalam Majelis Perwakilan Rakyat pada tahun 1993 dan 1997 M.

Sempat terjadi perselisihan yang sengit antara Badruddin dengan ulama Syiah Zaidiyah di Yaman terkait seputar fatwa sejarah yang didukung oleh para ulama Zaidiyah yang dipimpin oleh Majduddin al-Mu’ayyidi. Mereka menyatakan bahwa persyaratan pemimpin harus dari al-Hasyimi (ahlul bait Nabi n) sudah tidak relevan lagi pada masa sekarang ini, karena kondisi sejarah mengharuskan hal itu. Sekarang, rakyat diberikan pilihan untuk menetapkan pemimpinnya tanpa harus ada syarat dari keturunan Hasan atau Husain c. Badruddin menentang keras fatwa tersebut. Terlebih lagi, Badruddin berasal dari Syiah Zaidiyah al-Jarudiyah yang memiliki kedekatan dengan Syiah Rafidhah Itsna ‘Asyariyah.

Masalahnya semakin berkembang hingga Badruddin membela pemikiran Syiah Rafidhah. Bahkan, dia menulis sebuah kitab yang berjudul “az-Zaidiyah fil Yaman”. Isinya menjelaskan adanya kedekatan antara pemikiran Zaidiyah dan Itsna Asyariyah. Namun, karena penentangan yang kuat terhadap pemikirannya yang menyelisihi mazhab Zaidiyah, dia pindah ke Iran dan tinggal di sana beberapa tahun.

Kepergian Badruddin dari Yaman tidak berarti pemikirannya mandek. Pemikirannya yang dibangun di atas pemahaman Syiah Rafidhah justru semakin berkembang, terkhusus di daerah Sha’dah dan sekitarnya sejak 1997 M. Pada masa itu pula, anaknya yang bernama Husain Badruddin keluar dari partai Hizbul Haq sekaligus keluar dari parlemen. Ia kemudian mendirikan kelompok sendiri yang diberi nama “asy-Syabab al-Mukmin”, artinya Pemuda Beriman. Ayahnya, Badruddin, menjadi rujukan utama dalam pergerakan ini. Pada awalnya, kelompok ini hanya dianggap fokus memerhatikan masalah agama. Namun, ternyata kelompok Pemuda Beriman ini semakin menampakkan sikap perlawanannya terhadap pemerintah Yaman pada 2002 M.

Saat pergerakan kelompok ini mulai tampak, sebagian ulama Zaidiyah meminta Presiden Yaman ketika itu, Ali Abdullah Saleh, untuk memulangkan Badruddin ke Yaman guna mempelajari kembali pemikiran-pemikiran yang diajarkan kepada para murid dan pengikutnya. Badruddin menyetujui hal itu dan kembali ke Yaman. Ketika itu, pemerintah Yaman tidak menyangka bahwa kelompok ini akan memiliki kekuatan besar yang dapat melakukan perlawanan terhadap pemerintah Yaman.

Pada tahun 2004, tatkala pengikut Hutsi semakin berkembang dan kuat, mereka melakukan demonstrasi besar-besaran di jalanan negeri Yaman. Mereka menyebutkan bahwa al-Hutsi mengaku sebagai Imam Mahdi yang harus ditaati. Bahkan, sebagian menyebutkan bahwa dia mengaku sebagai nabi.

Pemerintah Yaman menentang keras hal ini sehingga menyebabkan terjadinya perang terbuka melawan kelompok Hutsi. Pemerintah mengerahkan lebih dari 30.000 tentara dan menggunakan pesawat serta senjata berat. Ketika itu, pemerintah berhasil membunuh pemimpin Hutsi, Husain Badruddin, menahan ratusan pemberontak, dan merebut senjata mereka dalam jumlah besar.

Setelah kematian Husain Badruddin, kelompok ini dipimpin langsung oleh ayahnya, Badruddin al-Hutsi. Dia menjelaskan, kelompoknya mempersenjatai diri secara diam-diam dengan sangat rapi hingga mampu melakukan perlawanan terhadap pemerintah Yaman.

Pada tahun 2008, Pemerintah Qatar berusaha menjadi penengah antara kelompok Hutsi dan Pemerintah Yaman. Akhirnya, disepakati adanya perjanjian damai. Dengan kesepakatan ini, senjata milik Hutsi diserahkan kepada pemerintah Yaman. Namun, tidak lama berlangsung kesepakatan tersebut, kelompok Hutsi melanggarnya sehingga peperangan kembali meletus. Bahkan, Hutsi berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menguasai beberapa daerah yang ada di sekitar Sha’dah. Mereka juga berusaha menguasai tepi Laut Merah dengan menguasai salah satu pelabuhan agar leluasa menerima bantuan yang berasal dari luar negeri, khususnya dari Iran.

Hutsi tidak hanya melakukan perlawanan terhadap Pemerintah Yaman. Mereka juga benar-benar ingin mendirikan negara Syiah Rafidhah dengan membunuh dan mengusir siapa saja yang menyelisihi pemikiran mereka. Hal ini menyebabkan terjadi pengungsian penduduk besar-besaran dari kampung halaman mereka yang dikuasai oleh kelompok Hutsi. Diberitakan bahwa hingga hari Kamis tanggal 22 Sya’ban 1430 H, bertepatan dengan tanggal 13 Agustus 2009 M, jumlah para pengungsi dari Kabupaten Sha’dah mencapai 130.000 orang dalam waktu dua pekan terakhir. Mereka seluruhnya dari kalangan Ahlus Sunnah yang enggan mengikuti keyakinan Hutsi.

Mereka tidak membiarkan adanya pondok pesantren Ahlus Sunnah yang dibangun oleh ahli hadits dari negeri Yaman, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah. Padahal isinya hanyalah para penuntut ilmu yang menjauhkan diri dari berbagai permasalahan politik. Mereka hanya fokus mendalami kitabullah dan sunnah Rasulullah dengan pemahaman salafus saleh. Meski demikian, kelompok Hutsi tidak henti-hentinya mengusik ketenangan mereka.

Mereka berusaha meratakan pondok pesantren Ahlus Sunnah dengan senjata berat berupa tank, basoka, mortir, dan lainnya. Selama lebih dari dua bulan, kelompok Hutsi berhasil mengepung ma’had (pondok pesantren) tersebut dari berbagai arah dan melarang masuknya bantuan berupa makanan, obat-obatan, dan lainnya. Hal ini menyebabkan banyak wanita, anak-anak, dan orang yang terluka mati karena kelaparan dan kedinginan; tanpa mendapatkan pertolongan sama sekali.

Ini semua akibat perbuatan bejat kelompok Hutsi yang sangat berkeinginan untuk membasmi Ahlus Sunnah dan melenyapkannya dari negeri Yaman, khususnya di daerah yang telah menjadi kekuasaan mereka.

Anehnya, tatkala menghancurkan bangunan ma’had Ahlus Sunnah yang terletak di daerah Kitaf dengan bahan peledak yang dahsyat, mereka meneriakkan slogan palsu, “Kematian untuk Amerika, laknat untuk Israel, kemuliaan untuk Islam.”

Sungguh, teriakan yang sangat aneh lagi palsu. Mereka tidak sedang menghancurkan Gedung Putih kebanggaan Amerika atau meledakkan fasilitas milik Amerika dan Yahudi. Namun, yang mereka hancurkan adalah markaz Ahlus Sunnah, tempat para penuntut ilmu mengkaji al-Qur’an dan as-Sunnah.

Sungguh, ini bukanlah kebohongan pertama yang dilakukan oleh para penjahat Syiah yang tidak memiliki kasih sayang.

Wallahul Musta’an.

Sumber : asysyariah.com


(757) views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kategori Artikel

Newsletter


Fatal error: Allowed memory size of 41943040 bytes exhausted (tried to allocate 4194304 bytes) in /home/darsalaf/public_html/wp-includes/wp-db.php on line 1851