Merekapun Diuji Seperti Kita

 Al-Ustadz Abu Hisyam Sufyan

                Lebih daripada permata nan elok warna dan kilaunnya, al Haq (kebenaran) adalah hal yang sangat besar nilainya dalam sanubari seorang muslim. Untuknya, berbagai ujian dan aral rintangan yang menghadang, bukanlah dianggap halangan. Bahkan, ia terjang demi kekalnya apa yang telah ia rengkuh ini. Harta benda bahkan nyawa yang ia miliki pun siap dipertaruhkan untuknya. Satu tekad bulatnya, bagaimanapun kondisinya, al Haq haruslah tetap di jiwanya.

            Memang, adalah sunnatullah, dunia merupakan negeri ujian-Nya. Siapa pun yang memegang al Haq, ia pun harus siap untuk menghadapai konsekuensi beratnya. Ya, manusia pasti akan diuji. Dengan berbagai bentuk ujian yang jika hatinya benar-benar telah luluh untuk al Haq, tiadalah ujian-ujian tersebut melainkan justru menambah kekuatan imannya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia mengira setelah mereka mengikrarkan dirinya bahwa dia beriman, lantas mereka dibiarkan tidak diuji ? Sungguh, orang-orang yang terdahulu pun telah Kami uji. Yang dengan ujian ini, maka akan teranglah siapa yang jujur dalam pengakuan imannya, dan siapakah yang dusta.” [Q.S. Al Ankabut: 2-3]

            Ayat diatas, tersimpulkan darinya satu hal, bahwa setiap mukmin pasti akan diuji. Maka siapa saja yang mengaku beriman, harus bersiap-siap merasakan pahit getirnya. Berbagai ujian, yang pasti banyak hikmah dibaliknya. Mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya atau bahkan sebaliknya, menghinakan seseorang sehina-hinanya. Sesuai sikapnya menghadapi ujian.

            Hal lain yang harus selalu kita ingat, bahwa dunia adalah negeri ujian. Semua manusia, terlebih mukminnya, pasti akan Allah Subhanahu wa ta’ala  berikan berbagai bentuk ujian yang telah Dia Subhanahu wa ta’ala siapkan. Namun, Allah Maha Bijaksana lagi Kasih Sayang terhadap hamba-Nya. “Allah tidak akan membebani  seorang anak manusia di luar batas kemampuannya.” [Q.S. Al Baqarah: 286]. Segala hal yang Allah Subhanahu wa ta’ala bebankan kepada anak manusia, pastilah dibangun diatas ilmu Allah, Dzat Yang Maha mengetahui bahwa hamba tersebut mampu menyelesaikannya.

            Termasuk dalam hal ujian. Ujian apapun yang Allah Subhanahu wa ta’ala pilihkan untuk para hamba-Nya, tidak akan melebihi batas akhir kemampuan hamba-Nya. Dengan kata lain, Allah Subhanahu wa ta’ala tidak mungkin akan menguji anak manusia dengan ujian yang dia tidak mampu memikulnya. Maka, ketika kita tertimpa suatu ujian, maka bulatkan tekad, katakan dengan yakin bahwa, “Aku pasti mampu menyelesaikannya dengan izin Allah. Karena aku tahu bahwa Allah hanya akan mengujiku dengan sesuatu yang aku mampu menyelesaikannya.”

            Diantara hal yang bisa kita lakukan untuk mengokohkan kesabaran kita adalah melihat kisah umat terdahulu. Bahwa mereka pun diuji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dengan berbagai bentuk ujian. Bahkan nyatanya, ujian yang mereka hadapi jauh lebih berat dari ujian-ujian yang mengitari kita.

                أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan). Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesunggunhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” [Q.S. Al Baqarah: 214]

            Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menuturkan bahwa didalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Ia pasti akan menguji hamba-Nya dengan ujian yang berat. Sebagaimana Allah ISubhanahu wa ta’ala menguji umat-umat terdahulu. Ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa ta’ala yang akan terus berlangsung. Tidak mungkin berubah atau berganti. Bahwa siapa pun yang berusaha menegakkan agama-Nya, maka ia pasti akan diuji.

            Akan tetapi, siapa yang tidak mampu bersabar, dan justru hal ini menghalangi dan memalingkannya dari keimanan, maka teranglah bahwa pengakuan keimanannya adalah dusta. Karena iman bukanlah sekadar pengakuan, bukan pula angan-angan. Tetapi menghujam kokoh dalam qalbu, dan dibuktikan dengan amalannya.

            Seperti yang Allah Subhanahu wa ta’ala beritakan, umat-umat terdahulu, telah menimpa mereka al ba’sa, yakni kefakiran dan ad dharra’, yakni berbagai penyakit. Mereka juga digoncangkan dengan berbagai bentuk ketakutan. Adanya ancaman pembunuhan, pengucilan, perampasan harta benda, karib kerabat dan orang-orang yang dicintai dibantai, berbagai bentuk siksaan yang berat, hingga hal ini menjadikan mereka menganggap lama pertolongan Allah yang mereka yakini kedatangannya.

            Saking kerasnya ujian yang mereka hadapi, hingga terucap dari lisan Rasul dan orang-orang mukmin yang bersamanya, “Kapankah pertolongan Allah datang ?” “Ketahuilah, sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat.”

            Demikianlah, siapa pun yang berusaha menegakkan al Haq, ia pun pasti diuji oleh Allah. Adakah ia konsisten dan mau bersabar ? Maka ujian pun akan berbuah indah. Yang berat terasa ringan. Musuh-musuh terkalahakan. Berbagai penyakit yang menggores di hati pun tersembuhkan.

            Dalam ayat semakna Allah ISubhanahu wa ta’ala firmankan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kalian mengira akan masuk surga sementara Allah belum melihat orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) di antara kalian dan juga melihat orang-orang yang bersabar.” [Q.S. Ali Imran: 142]

            Maka dengan ujian, seorang hamba akan dimuliakan atau bahkan dihinakan sehina-hinanya. [Taisirul Karimir Rahman]

Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menceritakan sebuah kisah mengenai bagaimana beratnya ujian yang menimpa umat terdahulu. Mereka benar-benar berjuang, mempertaruhkan nyawa mereka demi terjaganya nikmat iman yang telah menghujam dalam di kedalaman qalbunya.

Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih di kota Makkah, di awal-awal perjuangan dakwah. Saat itu, merupakan masa-masa yang berat bagi kaum muslimin. Jumlah mereka yang sangat minoritas ini, menjadikan mereka hidup penuh ancaman dan tekanan. Disiksa oleh kaum musyrik Quraisy. Coba lihat, bagaimana Bilal bin Rabah radhiallahu ‘anhu dalam panas terik yang membakar, tubuhnya ditelentangkan di atas pasir panas bak bara. Tubuhnya ditindih dengan batu yang demikian besar hingga ia pun tak bisa berkutik. Di lain waktu, dengan leher yang terikat, ia menjadi bahan permainan anak-anak. Ia diseret mengelilingi gang-gang kota Makkah layaknya seekor hewan ternak. “Ahad ahad ahad”, kata-kata inilah yang selalu terucap dari mulutnya. Allah Maha Tunggal.

Di tempat lain, keluarga Ammar bin Yasir radhiallahu ‘anhu pun disiksa hebat. Diikat di bawah sengatan panas matahari sahara. Terus berlanjut, hingga datanglah Abu Jahl kemudian menusuk kemaluan Sumayyah, ibunda Ammar, hingga ia pun tersungkur meninggal dunia. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala meridhai beliau. Sumayyah, syahidah pertama dalam islam. “Bersabarlah wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya kesudahan akhir bagi kalian adalah surga”, demikian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kepada mereka.

Keadaan memang sangat mengenaskan. Hingga membawa sahabat Khabbab bin Al Art untuk mencari Rasulullah, mengadukan apa yang menimpa mereka.

Waktu itu, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang bertelekan di dalam naungan bayangan ka’bah, berbantalkan kain burdah yang beliau kenakan, Khabbab pun mengadukan apa yang terjadi.

“Wahai Rasulullah, sungguh apa yang menimpa kami sangatlah berat, tidaklah engkau mendoakan kebaikan untuk kami ? Tidakkah engkau memohon segera pertolongan Allah ?”

Demi mendengar ucapan Khabbab, Nabi pun terbangun. Wajah beliau memerah. Menunjukkan bahwa beliau marah. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh, umat terdahulu, ada di antara mereka yang tubuhnya disisir dengan sisir-sisir dari besi, dipisahkan antara tulang dan dagingnya. Namun, hal itu tidak menjadikan mereka berpaling dari agamanya. Ada pula yang diletakkan gergaji di atas belahan rambut kepalanya. Ia pun dibelah dengannya sehingga terpotong menjadi dua. Pun tidak memalingakannya dari agamanya. Sungguh, Allah pasti akan meyempurnakan urusan agama ini. Hingga seorang pengendara, berjalan dari Shan’a ke Hadramaut, tidak ada yang ia takutkan selain Allah, juga serigala terhadap kambing-kambinnya. Hanya saja, kalian ini tergesa-gesa.” [H.R Al Bukhari dan selainnya].

Dalam hal ini Nabi hendak meningatkan sahabat Khabbab, bahwa apa yang menimpanya serta sahabat yang lain, jauh lebih ringan dibandingkan apa yang telah menimpa umat-umat sebelumnya. Maka, ini adalah obat yang mujarrab untuk menghadapi ujian-ujian yang semacam ini. Yakni, ketika kita mendapatkan ujian yang begitu berat, maka segeralah kita mengingat orang lain yang ujian mereka nyatanya lebih berat dari kita. Insya Allah dengan hal ini, kita akan mampu untuk terus berada di atas kesabaran. Kemudian, kita dapati mereka pun ternyata mampu menuntaskannya, mengapa kita tidak ?

Dalam hadits ini pun terdapat anjuran, agar kita selalu bersabar dan tidak tergesa-gesa dalam menghadapi ujian yang tengah menghadang. Orang-orang yang mampu bersabar, merekalah para pemenang. Yang berhak mendapatkan berbagai keutamaan yang tinggi di sisi-Nya.

Di dalamnya juga terdapat suatu peringatan bagi orang-orang yang berusaha mengekalkan al Haq di dalam qalbunya. Bahwa ia harus bersiap untuk mendapatkan berbagai bentuk ujian yang disiapkan-Nya. Sama, seperti dahulu Allah juga menguji orang-orang yang semisal dengannya.

Nah, inilah sepenggal kisah umat terdahulu. Beratnya ujian yang menimpa mereka, keseluruhannya tidak mampu menggoyahkan pijakan kakinya untuk terus berada di atas Al Haq. Suatu hal yang sangat patut untuk kita tiru dan kita contoh.

Maka, kita selalu memohon kepada Allah agar selalu mengokohkan kaki-kaki kita dalam berpijak di atas Al Haq yang kita cintai ini. Wallahhu a’lam.

Sumber: Majalah Qudwah edisi 4, vol. 1, hal 39-44


(8650) views

1 Comment

  • Rizki

    Aug 22, 2017

    Reply

    Terima kasih. Sangat bermanfaat. Barakallahu fiik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Kategori Artikel

Newsletter